Neon neon kecil diatas sana itu menatap mataku
lihatlah, serupa peri yang menghiasi pohon pohon khayalan
kini aku dapat melihatnya berbicara
tentang satu kisah di masa depan
tentang maraknya globalisasi dan zaman peradaban
bersinar satu satu di gelap malam
laron laron yang haus akan cahaya
tak menafikan bahwa neon hijau itu sangat penting
bagi kehidupan mereka
Seperti juga kita
yang haus akan cinta
menyumsum kuat hingga ke jiwa
sebab nanti tak ada lagi neon neon hijau itu disana
terkubur pekatnya hati dalam derita
Showing posts with label Laci 2. Show all posts
Showing posts with label Laci 2. Show all posts
Saturday, March 14, 2009
Sunday, February 1, 2009
LAGU HATI
Nadamu lembut menggugahku
ucapkan irama teduh yang mendinginkanku
bebaskan ku dari jejalan masalah
yang selalu menghimpit diriku
Hanya ajakan mu
terlalu indah kurasa
terlalu merdu kudengar
kau hamparkan bagai sebuah lagu
yang nadanya melodis mengalun
hadirkan artikulasi sempurna
di dalam rongga hatiku
Kekasihku,sesungguhnya....
yang benar benar ada
hanya nyanyianmu
ucapkan irama teduh yang mendinginkanku
bebaskan ku dari jejalan masalah
yang selalu menghimpit diriku
Hanya ajakan mu
terlalu indah kurasa
terlalu merdu kudengar
kau hamparkan bagai sebuah lagu
yang nadanya melodis mengalun
hadirkan artikulasi sempurna
di dalam rongga hatiku
Kekasihku,sesungguhnya....
yang benar benar ada
hanya nyanyianmu
Thursday, January 29, 2009
AMUNGME
Bagi penduduk Amungme,hidup adalah keniscayaan
yang harus ditempuh
meski hari hari yang dilalui
terasa gersang dan tak seimbang
putaran waktu terasa menyempit
walau jarak rentang waktu yang ditempuh dalam sehari
terasa sangat lama
hidup hanya mengulang kejadian yang lampau
yang masih tetap purba
seperti jaman dulu kala
aktivitas dan ritual berjalan seperti biasa
tak digerus oleh jaman
dalam hidup yang semakin keras
penduduk Amungme mencoba bertahan
di tengah keterbatasan mereka
dan walau waktu tidak memihak,
mereka tetap berjuang
melawan ironi hidup dan ganasnya alam
dan kini, di tengah jati diri mereka
berserakan ratusan asa lain
di tengah honai honai ilalang gersang
yang harus ditempuh
meski hari hari yang dilalui
terasa gersang dan tak seimbang
putaran waktu terasa menyempit
walau jarak rentang waktu yang ditempuh dalam sehari
terasa sangat lama
hidup hanya mengulang kejadian yang lampau
yang masih tetap purba
seperti jaman dulu kala
aktivitas dan ritual berjalan seperti biasa
tak digerus oleh jaman
dalam hidup yang semakin keras
penduduk Amungme mencoba bertahan
di tengah keterbatasan mereka
dan walau waktu tidak memihak,
mereka tetap berjuang
melawan ironi hidup dan ganasnya alam
dan kini, di tengah jati diri mereka
berserakan ratusan asa lain
di tengah honai honai ilalang gersang
Wednesday, December 17, 2008
SEPERTIGA MALAM
Aku terbangun pada sepertiga malam, dengan sendirinya
Aku lihat sekeliling kamar yang gelap gulita
Nampak tenang dan damai
Langit lazuardi masih belum ada
Ditutupi kegelapan sisa tadi malam
Namun kokok ayam jantan telah terdengar sayup sayup
Di kejauhan
Mengiringi kuak burung malam
Yang sesekali terdengar nyaring di kegelapan
Aku refleks bangun dan menikmati udara malam
Merasakan kuasa Tuhan dan pesona bintang gemintang
Aku lihat sekeliling kamar yang gelap gulita
Nampak tenang dan damai
Langit lazuardi masih belum ada
Ditutupi kegelapan sisa tadi malam
Namun kokok ayam jantan telah terdengar sayup sayup
Di kejauhan
Mengiringi kuak burung malam
Yang sesekali terdengar nyaring di kegelapan
Aku refleks bangun dan menikmati udara malam
Merasakan kuasa Tuhan dan pesona bintang gemintang
Tuesday, December 16, 2008
JANGAN LASAK GELISAH
Wahai, kawan kawanku
Yang berjuang melawan ironi
Hendak menyingkap sebuah kebenaran
Yang sayangnya telah remuk dimakan derita
Jangan kalian lasak gelisah
Kalian sudah berjalan di atas rel yang benar
Kalian sudah melaju dan melesat jauh
Meninggalkan segala macam teori dan retorika
Yang hanya mampu diucapkan
Lalu menguap tiada sisa
Kalian harus maju
Dan terus berjuang
Sisihkan hadangan yang melintang
Demi mencapai kejayaan
Sesungguhnya, kawan kawanku
Kebenaranlah
Yang akan menang
Yang berjuang melawan ironi
Hendak menyingkap sebuah kebenaran
Yang sayangnya telah remuk dimakan derita
Jangan kalian lasak gelisah
Kalian sudah berjalan di atas rel yang benar
Kalian sudah melaju dan melesat jauh
Meninggalkan segala macam teori dan retorika
Yang hanya mampu diucapkan
Lalu menguap tiada sisa
Kalian harus maju
Dan terus berjuang
Sisihkan hadangan yang melintang
Demi mencapai kejayaan
Sesungguhnya, kawan kawanku
Kebenaranlah
Yang akan menang
HANGAT
Kepada para "peminum"....
Apakah kau berpikir tubuh mu akan hangat
Jika kau reguk sebotol alkohol?
Jika “ya”, engkau salah besar
Karena kau telah jalankan bisnis setan
Cobalah wedang jahe
Akan lebih nikmat
Dan aku tak berpromosi
Begitulah kenyataannya
Tapi jika kau pikir itu belum cukup
Cobalah berzikir kepada Allah
Akan lebih hangat
Dan aku tak sangsikan
Begitulah kenyataannya
Apakah kau berpikir tubuh mu akan hangat
Jika kau reguk sebotol alkohol?
Jika “ya”, engkau salah besar
Karena kau telah jalankan bisnis setan
Cobalah wedang jahe
Akan lebih nikmat
Dan aku tak berpromosi
Begitulah kenyataannya
Tapi jika kau pikir itu belum cukup
Cobalah berzikir kepada Allah
Akan lebih hangat
Dan aku tak sangsikan
Begitulah kenyataannya
BUNGLON
Ada masa dimana keinginan yang mengembangHadir di sisiku berubah warna
Tersilang selimpat merebut hati menguak pikir
Mencari arti kata sejati dalam diriku
Adakalanya pula dalam diriku bertukar arti
Silih berganti sepanjang waktu
Seolah ingin menguasai rongga kalbuku
Berebut mengatakan ini yang pas, itu yang pas
Saling tindih berbaku lantun di kepalaku
Hingga membuat bingung diriku
Seperti bunglon, yang mengubah warnanya menjadi hijau
Di dedaunan
Begitu cepat, begitu ringkas
BIAS MELAYANG
Sendiri ku disini
Sepi menyiksa hati
Terbayang lagi wajah wajah mereka
Rekan rekan ku semasa di sekolah
Bias mereka melayang
Terekam lagi ingatanku terhadap mereka
Sedikit rinduku terobati
Hendak kemana lagi jiwaku ini?
Apakah tetap di kamar ini
Di hinggapi sepi
Atau melayang ke imaji kawan kawanku
Yang luas lebar tak bertepi?
Tak tahu lagi aku
Kini aku sendiri di kamar ini
Sepi ini....
mencekikku
Sepi menyiksa hati
Terbayang lagi wajah wajah mereka
Rekan rekan ku semasa di sekolah
Bias mereka melayang
Terekam lagi ingatanku terhadap mereka
Sedikit rinduku terobati
Hendak kemana lagi jiwaku ini?
Apakah tetap di kamar ini
Di hinggapi sepi
Atau melayang ke imaji kawan kawanku
Yang luas lebar tak bertepi?
Tak tahu lagi aku
Kini aku sendiri di kamar ini
Sepi ini....
mencekikku
Subscribe to:
Comments (Atom)
Kur Injit 2009
