Showing posts with label Laci 1. Show all posts
Showing posts with label Laci 1. Show all posts
Friday, February 27, 2009
KUCING MALAM
Kucing itu akan sendirian dalam kesunyian
kala malam, sinar bulan nampak remang menutupi tubuhnya
warna kulitnya yang belang akan memburam
di naungi bayangan gedung yang kokoh menjulang
di pojok jalan, ada suara jejak langkah yang bersicepat
menerobos malam yang entah mengapa menjadi diam
suara kaki itu berlalu, meninggalkan sorot mata yang aneh
yang tertuju kepada kucing itu
suara kucing itu pelan, amat pelan
bahkan hampir tak dapat didengar
tubuh kucing itu pucat dan penuh luka
sinar matanya lemah, tubuhnya kurus kering
jika saja orang orang tahu keadaan kucing itu
terasa miris untuk diungkapkan
terasa sulit untuk dilupakan
kala malam, sinar bulan nampak remang menutupi tubuhnya
warna kulitnya yang belang akan memburam
di naungi bayangan gedung yang kokoh menjulang
di pojok jalan, ada suara jejak langkah yang bersicepat
menerobos malam yang entah mengapa menjadi diam
suara kaki itu berlalu, meninggalkan sorot mata yang aneh
yang tertuju kepada kucing itu
suara kucing itu pelan, amat pelan
bahkan hampir tak dapat didengar
tubuh kucing itu pucat dan penuh luka
sinar matanya lemah, tubuhnya kurus kering
jika saja orang orang tahu keadaan kucing itu
terasa miris untuk diungkapkan
terasa sulit untuk dilupakan
Saturday, February 21, 2009
KE BULAN
Mencari hasrat
tak terlupakan
di langit mu, di langit mu
ku berlari
ku mengawang
menembus awan, menembus bumi,
menembus galaksi
ke atmosfer tertinggi di planet ini
hingga ku terbang ke bulan
mencari arti hidup
mencari jati diri
tak terlupakan
di langit mu, di langit mu
ku berlari
ku mengawang
menembus awan, menembus bumi,
menembus galaksi
ke atmosfer tertinggi di planet ini
hingga ku terbang ke bulan
mencari arti hidup
mencari jati diri
Tuesday, January 6, 2009
GETIR
Kadang hidup begitu manis kurasakan
kadang begitu getir
tapi getir bagiku amat getir
menyelusup ke kamar, meja makan, ruang kuliah,
halaman rumah, perpustakaan,
bahkan menguntit ku hingga ke mimpi
aku tak mengerti
berasa aneh aku
hidup adalah suatu kegetiran yang mesti dijalani
untuk kemudian memulai dengan kegetiran yang baru
getir muncul menyembul di hatiku
lalu melakukan reproduksi
untuk melahirkan getir yang lain
sangat getir hidupku
hingga makanan yang manis pun
menjadi getir di mulutku
kadang begitu getir
tapi getir bagiku amat getir
menyelusup ke kamar, meja makan, ruang kuliah,
halaman rumah, perpustakaan,
bahkan menguntit ku hingga ke mimpi
aku tak mengerti
berasa aneh aku
hidup adalah suatu kegetiran yang mesti dijalani
untuk kemudian memulai dengan kegetiran yang baru
getir muncul menyembul di hatiku
lalu melakukan reproduksi
untuk melahirkan getir yang lain
sangat getir hidupku
hingga makanan yang manis pun
menjadi getir di mulutku
Wednesday, December 17, 2008
ATELIR SENI
Hidupku mengalir dipenuhi serabut seni
akar akar diri yang begitu tinggi
di atelir, tempat aku selalu mengukir karya
meresap begitu indah dalam kalbu
menggoreskan pahatan kata kata yang artistik
membentuk diri dan akal seni
tempat dimana dalam rasa,
angan dan asa yang membumbung tinggi
menyimpan semua ekspresi hati, ungkapan
yang tertera begitu ritmis di sendi sendi nurani
serasa berada di rongga imaji
yang gemanya memantul ke seluruh diri
akar akar diri yang begitu tinggi
di atelir, tempat aku selalu mengukir karya
meresap begitu indah dalam kalbu
menggoreskan pahatan kata kata yang artistik
membentuk diri dan akal seni
tempat dimana dalam rasa,
angan dan asa yang membumbung tinggi
menyimpan semua ekspresi hati, ungkapan
yang tertera begitu ritmis di sendi sendi nurani
serasa berada di rongga imaji
yang gemanya memantul ke seluruh diri
SEBUAH PULAU DI SEBERANG
Pada sebuah kapal nan sunyi
Seluruh awak kapal pada menanti
Di kelam malam yang sepi
Debur ombak merintangi
Semua orang pada menunggu
Derum mesin dan kerlip bintang
Juga bisa menyaksikan
Kali ini.... Tak seorangpun bicara
Hanya desah dan gumam kecil
Lautan ini sangat luas
Langit juga luas
Tapi hanya satu yang paling luas
Luas harapan luas impian
Perjalanan ini hampir selesai
Mata kami sudah tampak
Sebuah pulau di seberang
Seluruh awak kapal pada menanti
Di kelam malam yang sepi
Debur ombak merintangi
Semua orang pada menunggu
Derum mesin dan kerlip bintang
Juga bisa menyaksikan
Kali ini....
Hanya desah dan gumam kecil
Lautan ini sangat luas
Langit juga luas
Tapi hanya satu yang paling luas
Luas harapan luas impian
Perjalanan ini hampir selesai
Mata kami sudah tampak
Sebuah pulau di seberang
Tuesday, December 16, 2008
DIORAMA SUNYI
Kurasa sejumput waktu menjemput aku
Yang kian sunyi dimakan waktu
Apakah ada detak jam yang terus berbunyi menandakan hari
Sementara gelepar hari berlalu sesepi munggu
Bila kelebat sayap burung sirna di bukit bukit Kaliurang
Dan bunyi kuak tak ada lagi di gumuk batu
Adakah sepercik harapan yang tersisa di ruang dengarku
Ruang bisu yang terpaku menunggu waktu
Hari demi hari
Seolah berlalu melintas benakku
Aku yang terdiam menunggu jejak langkah
Yang entah mengapa selalu membeku di tempatku
Teredam derasnya derita dalam gulita
Memekik batinku tak tahu tuju
Terasa hatiku lelah menunggu hujan suaramu
Yang menderas membasahi genangan hatiku
Mengguyur bayangku sepanjang waktu
Yang kian sunyi dimakan waktu
Apakah ada detak jam yang terus berbunyi menandakan hari
Sementara gelepar hari berlalu sesepi munggu
Bila kelebat sayap burung sirna di bukit bukit Kaliurang
Dan bunyi kuak tak ada lagi di gumuk batu
Adakah sepercik harapan yang tersisa di ruang dengarku
Ruang bisu yang terpaku menunggu waktu
Hari demi hari
Seolah berlalu melintas benakku
Aku yang terdiam menunggu jejak langkah
Yang entah mengapa selalu membeku di tempatku
Teredam derasnya derita dalam gulita
Memekik batinku tak tahu tuju
Terasa hatiku lelah menunggu hujan suaramu
Yang menderas membasahi genangan hatiku
Mengguyur bayangku sepanjang waktu
KUMBANG
Puluhan kumbang kumbang diawetkan
Untuk suatu keperluan penelitian, kajian anatomi tentang hewan
Formalin di tubuhnya nampak kesat
Berisi cairan metanol yang menyengat
Kumbang kumbang itu ketika hidupnya pasti beraneka
Menempel di daun daun, hinggap di empulur batang sagu,
Hidup dalam rongga kayu atau melekat pada batang pisang
Ada yang menyerap cairan tanaman
Ada yang memakan jaringan daun tumbuhan
Ada pula yang memakan umbut kelapa
Kepak depan perisainya yang tebal
Memungkinkannya untuk bertahan dari ancaman pemangsanya
Warnanya yang berspektrum menjadi ciri khas
Dari setiap spesies
Yang memungkinkannya untuk mengelabui musuhnya
Hal ini pulalah kiranya yang membuat mereka tergeletak kaku
Di sekat sekat kaca
Dalam keadaan tak bernyawa
CAHAYA TASBIH
Aku bersila dan memuji rahmat Allah
Yang banyak tak dapat dihitung
Aku bersila dan layangkan istighfar
Mohon ampunan segala dosaku
Dalam gelapnya ruangan...
Dan sunyi yang larut
Aku hitung tiap saat
Lewat seuntai tasbih hijau zamrud
Tiba tiba ada pendar cahaya
Sementara mataku terpejam khusyuk
Ketika kubuka mata
Aku lihat cahaya tasbih berkilauan
Terang dan bersinar
Menerangi hati, menyejukkan jiwa
Yang banyak tak dapat dihitung
Aku bersila dan layangkan istighfar
Mohon ampunan segala dosaku
Dalam gelapnya ruangan...
Dan sunyi yang larut
Aku hitung tiap saat
Lewat seuntai tasbih hijau zamrud
Tiba tiba ada pendar cahaya
Sementara mataku terpejam khusyuk
Ketika kubuka mata
Aku lihat cahaya tasbih berkilauan
Terang dan bersinar
Menerangi hati, menyejukkan jiwa
BUNGA KERTAS
Dalam kotak wadah kemasan barang
Berjejer dengan radio, pigura dan cat warna
Berdiri sebuah bunga kertas berwarna merah
Dengan tangkai sapu lidi berbalut kertas Asturo
Menyembul murung dari wadah plastik serupa tugu
Setiap mata yang memandang menjadi ragu
Mengapa dari sekuntum mawar kertas yang terpasang
Mengoyak sepi dari duri tajam
Yang terselip menyembul dari ruang wadah yang indah
Sungguh pun sepi menyiksa kalbu
Walau jalinan indah bunga itu takkan pernah layu
Mengapa pula bunga kertas itu
Begitu membekas di ingatan
Mengusik cerita yang indah berubah padam
Berjejer dengan radio, pigura dan cat warna
Berdiri sebuah bunga kertas berwarna merah
Dengan tangkai sapu lidi berbalut kertas Asturo
Menyembul murung dari wadah plastik serupa tugu
Setiap mata yang memandang menjadi ragu
Mengapa dari sekuntum mawar kertas yang terpasang
Mengoyak sepi dari duri tajam
Yang terselip menyembul dari ruang wadah yang indah
Sungguh pun sepi menyiksa kalbu
Walau jalinan indah bunga itu takkan pernah layu
Mengapa pula bunga kertas itu
Begitu membekas di ingatan
Mengusik cerita yang indah berubah padam
Subscribe to:
Comments (Atom)
Kur Injit 2009
