Showing posts with label Laci 3. Show all posts
Showing posts with label Laci 3. Show all posts

Saturday, March 14, 2009

MAK YONG

Gemulai tari dan suara rebab serta gendang yang di pentaskan
menambah meriah suasana desa
penari penari bertopeng itu datang dari jauh, katamu
mereka tak pedulikan zaman yang mulai rapuh
oleh ketidakpastian hidup di dunia fana ini

Namun mereka merasa bangga
akan ritual nenek moyang mereka
sejak dulu kala
yang melegenda di kota kota barat
bahkan hingga ke luar pulau di nusantara

Makyong, itulah seni peran yg timbul tenggelam
bersama munculnya garis garis baru
yang lebih dominan

Saturday, January 31, 2009

HARI HARI DI GAZA

Hari hari mencekam
udara berbalut fosfor putih, ledakan bom, mesiu
merenggut hari hari penuh impian anak anak Palestina
nyaris tak ada waktu bagi mereka
menikmati indahnya dunia, mengenyam harapan harapan
yang ada hanya tangis lirih
dan pekik kesakitan

Thursday, January 29, 2009

KECIL

Kini hanya seuntai kalimat kecil
dan selaput kata mini
yang tertulis
berbekas setitik asa
yang tertinggal
di inci wajahmu

Wednesday, December 17, 2008

SETENGAH HATI

Aku turuti kemauanmu
walau dengan enggan mengamuk kalbu
terasa hambar jika denganmu
hanya mengulang cerita lama
yang tak akan pernah selesai
aku turuti keinginanmu
walau dengan setengah hati
termakan derita yang tak kunjung usai
lewat ungu matamu
yang menatapku memaku
aku turuti kemauanmu
walau dengan hati membatu
seperti ketika aku mengingatmu
hanya dengan hati yang bisu

SALJU

Dalam pagi berkabut sunyi itu
Aku melihat salju jatuh di hamparan tanah
Mengisar terserak di jalan setapak
Terjun bebas melayang di ranting pohon
Mengapung lembut di riak sungai
Lalu hinggap di daun jendela bertudung sepi
Aku terkejut setengah mati namun bersorak
Inilah kiranya fenomena terindah di dalam hidupku
Yang biasanya hanya berbentuk cerita dongeng pelelap tidur
Berupa klise yang amat sederhana
Mengalun lirih meresap menjalar ke telingaku
Dan hanya disumpal oleh keadaan
Yang tak pernah bisa lumat
Namun kini semua telah berubah
Serpihan salju itu telah memberikan sebuah energi baru
Sebuah ekstase baru
Yang meluap luap
Membakar gelora nadiku
Dan menghidupkan sesuatu yang telah mati dalam hidupku

RUMPUT BIRU

Melangkah riang menuju imaji
Akankah harapan terus meninggi
Manakala ku lihat burung kenari singgah
Berkepak lembut di semak biru
Merajut anyaman berbahan rumput
Berbalik terbang hendak membuat sarang
Kawanan lain pula di balik rimbunan
Muncul bergerombol menadah jari
Hendak minum di telaga biru
Akankah asa akan terus bersemi
Bila saat waktunya unggas unggas datang
Berkerumun di rumput biru
Yang segarnya terasa di pelupuk matamu

PERCIKAN LAPINDO

Kau lihat lautan lumpur itu
Ganas mengoyak desa
Tangis lirih bercampur derita:
“Rumahku mana?”
Pupus sudah harapan mereka
Hanya sebersit yang mereka punya
Ingin juga mereka berkata
Pengaduan ke penguasa
Tapi itu bagai tak ada
Mulut mereka telah kering
Namun alam tidak berpihak
Penguasa pun kian bertahta

Tuesday, December 16, 2008

KALIURANG DALAM SKETSA

Malam di Kaliurang bagai malam sepenuh asa
Bintang di langit bersinar sinar, lembut menyapa
Angin semilir mendayu di telinga
Membuat jiwa menjadi melayang menyapu angkasa
Ruh jiwa bergetar naik
Mengungkapkan segala rasa
Pandangan beredar ke gumuk yang lengang
Di lingkari sawah sawah dan riak air sungai
Air di pematang mengalir lengkap
Mengairi sengkedan tanah yang nampak gelap
Sungai pemijahan udang nampak kelam
Menyisakan bayang bayang buram di tepi jalan
Pejalan kaki mengayun langkah di redup lampu
Menikmati indahnya malam dan bintang gemintang
Menyusuri jalan setapak menuju bukit bukit cadas
Yang tinggi menjulang di kaki langit
Keadaan nampak sedikit sunyi dan sepi
Namun asa ini terus meninggi

Kur Injit 2009